NEWS
Indeks
Nasional

Dewi Motik Pastikan Dua Calon Ketum IWAPI Siap Bersaing di Munas November 2026

Proses regenerasi kepemimpinan Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia memasuki tahap krusial. Menjelang Munas IWAPI 2026, pendiri organisasi sekaligus Ketua Dewan Kehormatan, Dewi Motik, menegaskan pentingnya kompetisi yang fair, damai, dan demokratis. Isu ini relevan bagi pengusaha perempuan di berbagai daerah, termasuk Bandung dan Jawa Barat, yang banyak tergabung dalam jaringan IWAPI.

Jadwal Musyawarah Nasional ditetapkan pada November 2026. Hingga akhir Agustus, dua nama telah resmi mendaftar sebagai calon Ketua Umum periode berikutnya, yaitu Hana Hasanah Fadel Muhammad dan Tatyana Sentani Sutara. Keduanya muncul di masa kepengurusan Ketua Umum Dyah Anita Prihapsari.

Dua Kandidat Dinilai Memenuhi Seluruh Persyaratan SC

Menurut Dewi Motik, Panitia Pengarah atau Steering Committee Munas telah menyampaikan 12 persyaratan wajib yang mengacu pada AD/ART organisasi. Kedua calon dinyatakan lolos seluruh ketentuan tersebut. Ia memandang kehadiran dua kandidat sebagai tanda demokratisasi internal yang sehat, bukan sumber perpecahan.

Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers di D’Rumah Kita Resto, Menteng, Jakarta, Senin, 31 Agustus 2026. Dewi menekankan agar dinamika organisasi dibiarkan berjalan wajar setelah tahap administrasi dilalui. Ia tidak ingin proses seleksi dibayangi spekulasi yang merugikan soliditas anggota.

Klarifikasi Sertifikat Pelatihan Calon Hana Hasanah

Muncul pertanyaan publik soal keabsahan sertifikat pelatihan salah satu calon, Hana Hasanah Fadel Muhammad. Dewi Motik menjawab langsung bahwa dokumen itu sah. Pelatihan terkait diikuti pada Februari, dan sertifikat dikeluarkan sesuai kegiatan yang memang rutin digelar untuk anggota.

Sebagai tokoh yang lama aktif menyelenggarakan pelatihan kewirausahaan di tubuh IWAPI, Dewi menegaskan praktik penerbitan sertifikat bukan hal baru. Ia menilai isu tersebut tidak perlu dipolitisasi karena fakta pelatihannya sudah jelas. Klarifikasi ini diharapkan menutup ruang rumor menjelang Munas.

Pesan Fair Play untuk Kepengurusan dan Anggota Daerah

Dewi Motik mendorong seluruh elemen IWAPI menjaga suasana damai. Ia mengingatkan bahwa Munas bukan hanya ajang suksesi, melainkan momentum memperkuat peran perempuan pengusaha di tingkat nasional maupun daerah. Bagi kader di Bandung dan Jawa Barat, transparansi proses pusat menjadi acuan agar cabang tetap fokus pada pembinaan usaha anggota.

Ia juga menyoroti pentingnya kepatuhan pada mekanisme resmi SC. Setelah syarat administrasi terpenuhi, ruang debat gagasan antarcalon seharusnya dibuka secara sehat. Dengan begitu, hasil Munas November 2026 dapat diterima luas tanpa meninggalkan friksi berkepanjangan di internal organisasi.

Agenda Munas dan Harapan Regenerasi IWAPI

Selain memilih ketua umum baru, Munas diperkirakan menjadi forum evaluasi program dan penguatan jejaring pengusaha perempuan. Dewi Motik, yang kini berada di Dewan Kehormatan, menempatkan diri sebagai penjaga nilai organisasi agar kompetisi tetap beradab. Ia menyambut baik munculnya kandidat yang sudah lolos filter formal.

Bagi pembaca di Bandung, perkembangan ini layak diikuti karena banyak pelaku UMKM perempuan setempat tersambung dengan agenda IWAPI nasional. Kejelasan aturan main di pusat berpotensi menular ke penguatan tata kelola di tingkat wilayah. Yang dibutuhkan kini adalah konsistensi semua pihak menjaga Munas tetap demokratis.

Dengan dua calon yang sudah memenuhi 12 syarat SC, bola ada pada dinamika anggota dan panitia menuju November 2026. Dewi Motik memilih sikap terbuka: biarkan proses berjalan, jaga fair play, dan utamakan kepentingan organisasi di atas tarikan personal.

Sumber: Sindo News.

Tag: Munas IWAPI 2026, Dewi Motik, wanita pengusaha, Hana Hasanah, Tatyana Sentani, ketua umum IWAPI, pengusaha perempuan, Jawa Barat