Kerja sama lintas lembaga untuk membangun ekonomi hijau berbasis pertanian berkelanjutan kembali menguat di tingkat nasional. PT ESGIN Global Partners (ESGIN), Koperasi Pangan Cendekia Indonesia (KPCI), dan Koperasi Kencana Darma Cendekia (KKDC) menandatangani nota kesepahaman guna memperkuat rantai pasok pangan, ekonomi sirkular, serta pemberdayaan masyarakat. Langkah ini relevan dicermati pembaca di Bandung dan Jawa Barat yang banyak bergantung pada sektor agribisnis.
Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dilakukan di Jakarta pada Kamis, 10 September 2026. Acara tersebut menjadi bagian dari Seminar Nasional bertema Green Education yang mengangkat kesiapan talenta masa depan terhadap ketahanan energi dan pangan ramah lingkungan.
Fokus kolaborasi mencakup rantai pasok hingga proyek iklim
Ruang lingkup kerja sama tidak hanya terbatas pada produksi pertanian. Ketiga pihak menyepakati penguatan rantai pasok pangan, penerapan ekonomi sirkular, pemanfaatan teknologi lingkungan digital, pengembangan proyek hijau dan proyek iklim, serta program pemberdayaan komunitas.
Vice President ESGIN Global Partners, Yayang Ruzaldy, menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan tidak boleh dipandang sebagai agenda terpisah. Menurutnya, generasi muda hari ini akan menjadi wirausahawan, profesional, konsumen, hingga pengambil keputusan di masa depan, sehingga pemahaman keduanya perlu ditanamkan sejak dini.
Pendidikan hijau diarahkan ke aksi terukur
Dalam keterangan pers yang disampaikan Jumat, 11 September 2026, Yayang menjelaskan bahwa pendidikan hijau harus beralih dari sekadar pemahaman konsep menuju praktik nyata. Keterlibatan anak muda dinilai penting dalam pengurangan sampah dan limbah makanan, penghematan energi serta air, pelestarian lingkungan, dan aktivitas ekonomi sirkular yang dampaknya dapat dicatat serta diukur.
Seminar nasional yang mengiringi penandatanganan MoU mengusung pesan talenta melek ketahanan energi dan pangan yang bersahabat dengan alam. Pendekatan ini diharapkan membentuk pola pikir wirausaha dan profesional yang menyeimbangkan produktivitas dengan tanggung jawab ekologis.
Peran KPCI di hulu dan kepastian pasar petani
KPCI menempatkan diri pada penguatan ekosistem hulu. Lembaga ini mengandalkan jaringan petani, kelompok tani, koperasi, wilayah, dan komoditas pertanian potensial. Selain itu, KPCI mendorong kemitraan usaha pertanian serta skema contract farming agar produksi lebih terjamin dan hubungan petani dengan pasar semakin kuat.
Penandatanganan MoU diwakili Yayang Ruzaldy dari ESGIN, Ketua KPCI-MPP ICMI Marwah Daud Ibrahim, serta Ketua KKDC Rhesa Yogaswara. Sinergi koperasi dan mitra swasta ini diharapkan memperpendek jarak antara produsen di lapangan dengan kebutuhan pasar yang menuntut praktik berkelanjutan.
Artinya bagi kawasan pertanian di Jawa Barat
Meskipun agenda digelar di Jakarta, arah kolaborasi menyentuh isu yang akrab bagi kawasan pertanian di Jawa Barat, termasuk sekitar Bandung Raya. Penguatan rantai pasok, kemitraan kontrak, dan pencatatan dampak sirkular menjadi kerangka yang dapat diadaptasi koperasi serta kelompok tani lokal tanpa mengubah fakta bahwa kesepakatan ini bersifat nasional.
Dengan menyatukan edukasi talenta, teknologi lingkungan, dan jaringan koperasi pangan, ketiga lembaga menempatkan ekonomi hijau sebagai kerja jangka panjang. Keberhasilan diukur bukan hanya dari dokumen kesepahaman, melainkan dari aksi pengurangan limbah, efisiensi sumber daya, dan kepastian penghidupan petani yang terus dipantau.
Ke depan, implementasi MoU akan diuji pada kemampuan menyelaraskan proyek hijau, proyek iklim, dan pemberdayaan masyarakat agar hasilnya terasa di hulu produksi hingga konsumen. Publik, termasuk di Bandung, dapat mengikuti perkembangan ini sebagai rujukan praktik agribisnis yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Sumber: Sindo News.
