NEWS
Indeks
Nasional

BNN Paparkan Empat Operasi Besar Narkotika ke DPR, Total 8,07 Ton

Pengungkapan narkoba BNN kembali menjadi sorotan nasional setelah lembaga tersebut memaparkan empat operasi besar di hadapan Komisi III DPR. Dalam rentang sekitar dua bulan, total 8,07 ton narkotika diamankan, dengan klaim penyelamatan hingga 34,74 juta jiwa dari ancaman peredaran gelap. Paparan itu disampaikan Sekretaris Utama BNN Tantan Sulistyana saat pembahasan RKA-KL 2027 di Jakarta, Selasa, 1 September 2026.

Bagi pembaca di Bandung dan Jawa Barat, data nasional ini relevan karena jaringan peredaran sering menembus kota-kota besar, termasuk jalur distribusi ke wilayah priangan. Capaian operasi tersebut juga dikaitkan BNN dengan argumen perlunya penguatan anggaran agar layanan pencegahan dan rehabilitasi tidak terhambat.

Empat lokasi operasi dalam dua bulan

Pengungkapan pertama berlangsung di Gresik pada Juli 2026. Aparat gabungan menyita 3,37 ton cannabis buds dengan perkiraan nilai ekonomis mendekati Rp 4,6 triliun. BNN menilai sitaan itu mencegah peredaran kepada sekitar 10,1 juta orang.

Operasi berikutnya terjadi di perairan Kepulauan Riau pada awal Agustus, dengan amanan 1,3 ton ketamin. Menurut Tantan, keberhasilan itu menyelamatkan setidaknya 6,49 juta jiwa dan memiliki potensi nilai hampir Rp 2,1 triliun. Pada 17 Agustus 2026, kembali di perairan Kepulauan Riau, petugas menggagalkan penyelundupan 2,6 ton metamfetamin cair atau sabu cair. Pengungkapan itu disebut menyelamatkan 14,15 juta jiwa dengan potensi ekonomis Rp 8,49 triliun.

Intersepsi kapal di Natuna Utara

Kasus keempat berlangsung di perairan Natuna Utara pada pekan ketiga Agustus. BNN bersama Bareskrim Polri, Bea Cukai, dan Polda Kepulauan Riau mencegat kapal kargo Fuq Fuq Chang Sing serta kapal tanker MV Asli yang diduga bertransaksi di tengah laut. Pada penggeledahan 24 Agustus, ditemukan 800 kilogram ketamin hidroklorida yang disembunyikan di bagian buritan kapal. Tantan menyebut pengungkapan keempat ini menyelamatkan sekitar 4 juta jiwa dari risiko adiksi.

Secara keseluruhan, empat operasi itu dihitung BNN telah melindungi sekitar 34.740.000 jiwa. Angka tersebut menjadi dasar perhitungan dampak fiskal yang dipaparkan kepada anggota dewan.

Estimasi penghematan biaya rehabilitasi

Dengan asumsi biaya rehabilitasi Rp 20 juta per orang selama enam bulan, BNN menghitung potensi biaya yang dapat dihemat negara mencapai Rp 694,8 triliun. Tantan menegaskan bahwa setiap rupiah anggaran untuk BNN dinilai menghasilkan perlindungan berlipat jauh lebih besar dibanding nilai belanja lembaga.

Argumen efisiensi itu disampaikan beriringan dengan usulan tambahan anggaran tahun 2027 sebesar Rp 5,05 triliun. Komposisi usulan mencakup Rp 3,54 triliun pinjaman luar negeri dan Rp 1,51 triliun dari Rupiah Murni. Sementara pagu yang diterima BNN untuk 2027 tercatat Rp 1,44 triliun, turun Rp 69,55 miliar atau 4,59 persen dibanding pagu awal 2026 sebesar Rp 1,51 triliun.

Dampak keterbatasan anggaran dan tantangan modus baru

Menurut paparan di rapat tersebut, keterbatasan alokasi membuat sejumlah kebutuhan layanan publik dan program prioritas belum tertutupi. Belanja terkait rehabilitasi, uji narkotika, asesmen terpadu, serta belanja prioritas nasional dan kelembagaan disebut belum memperoleh porsi yang memadai. Kondisi itu dikhawatirkan menghambat dukungan terhadap agenda pencegahan dan pemberantasan narkotika, termasuk program kerja prioritas nasional.

Tantan menambahkan bahwa tantangan makin kompleks: perubahan modus operandi, luasnya jaringan peredaran gelap, serta munculnya jenis narkotika dan pola penyalahgunaan baru. Peningkatan kapasitas lembaga dinilai mendesak agar penindakan dan pencegahan tetap efektif di seluruh wilayah, termasuk kawasan urban seperti Bandung yang rentan menjadi pasar akhir peredaran.

Ringkasnya, empat pengungkapan dengan total 8,07 ton narkotika menjadi bukti kinerja operasional BNN sekaligus landasan permintaan penguatan anggaran di hadapan Komisi III DPR. Publik menanti tindak lanjut pembahasan anggaran agar upaya penyelamatan generasi dari narkoba tidak kehilangan daya dukung.

Sumber: Liputan6.

Tag: BNN, narkoba, Komisi III DPR, sitaan narkotika, anggaran BNN, rehabilitasi, Kepulauan Riau, Natuna