Program cek gigi gratis menyasar ratusan siswa disabilitas di SLB A Pembina Lebak Bulus, Jakarta Selatan, pada Kamis, 27 Agustus 2026. Kegiatan ini digelar Yayasan Nurul Misha Deyva sebagai bagian kepedulian kesehatan mulut anak berkebutuhan khusus, sekaligus menandai semangat HUT ke-81 Republik Indonesia. Bagi pembaca di Bandung dan Jawa Barat, inisiatif serupa layak menjadi rujukan agar akses layanan gigi bagi anak disabilitas terus diperluas.
Selain pemeriksaan, peserta mengikuti penyuluhan dan kegiatan gosok gigi bersama. Sekitar 300 anak dilayani langsung, sementara kurang lebih 50 orang tua, pendamping, dan guru mendapat edukasi cara merawat gigi dan mulut sehari-hari di rumah maupun di sekolah.
Rangkaian layanan di SLB A Pembina
Lokasi kegiatan terpusat di SLB A Pembina Lebak Bulus. Pemeriksaan dilakukan secara bertahap agar setiap anak mendapat perhatian memadai. Pendampingan guru dan orang tua membantu proses berjalan tertib, terutama bagi siswa yang membutuhkan pendekatan khusus saat diperiksa.
Penyuluhan menekankan kebiasaan sederhana: menyikat gigi teratur, membatasi camilan manis, serta segera berkonsultasi jika muncul nyeri atau pembengkakan. Materi disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami agar bisa dipraktikkan di lingkungan keluarga.
Kehadiran istri Menkes dan pendiri yayasan
Acara dihadiri Ida Rachmawati, istri Menteri Kesehatan RI, yang menilai kegiatan ini bermanfaat karena keluhan sakit gigi masih menduduki peringkat atas di masyarakat. Dukungan tokoh kesehatan memperkuat pesan bahwa anak disabilitas berhak mendapat layanan preventif yang setara.
Dokter spesialis bedah mulut Deyva Linda, pendiri Yayasan Nurul Misha Deyva, menjadi pencetus program. Kehadirannya menegaskan sisi profesional medis dalam bakti sosial, bukan sekadar seremoni. Pendekatan klinis dipadukan dengan edukasi agar dampaknya berlanjut setelah hari pemeriksaan.
Partisipasi publik dan artis
Beberapa sosok publik turut hadir, antara lain Melanie Subono, Marini Zumarnis, dan Yuni Shara. Partisipasi mereka menambah suasana ramah anak dan membantu menarik perhatian pada isu kesehatan gigi kelompok rentan. Antusiasme peserta terlihat saat sesi gosok gigi bersama berlangsung.
Pelibatan orang tua dan guru menjadi bagian penting. Edukasi kepada sekitar 50 pendamping bertujuan agar pantauan kebersihan mulut tidak berhenti di sekolah. Kolaborasi yayasan, tenaga kesehatan, dan keluarga dinilai lebih efektif menjaga kebiasaan baik dalam jangka panjang.
Mengapa kesehatan gigi anak disabilitas mendesak
Sakit gigi sering mengganggu makan, tidur, dan konsentrasi belajar. Pada anak berkebutuhan khusus, kesulitan menyampaikan rasa nyeri bisa membuat masalah terdeteksi terlambat. Pemeriksaan berkala dan penyuluhan dini membantu mencegah infeksi serta mengurangi kebutuhan tindakan yang lebih berat.
- Pemeriksaan gratis bagi sekitar 300 siswa disabilitas
- Edukasi untuk orang tua, pendamping, dan guru
- Gosok gigi bersama sebagai praktik langsung
- Dukungan tokoh kesehatan dan publik
Untuk keluarga di Bandung Raya, pesan inti kegiatan ini tetap relevan: rutinitas kebersihan mulut, kontrol rutin, dan komunikasi dengan sekolah dapat menekan risiko gangguan gigi. Pemerintah daerah, klinik, dan komunitas difabel dapat meniru pola kolaborasi serupa agar jangkauan layanan merata.
Kegiatan di Lebak Bulus menunjukkan bakti sosial bertema HUT RI bisa menyentuh kebutuhan nyata. Dengan fakta sekitar 300 anak dan puluhan pendamping yang dilibatkan, model pemeriksaan plus edukasi layak dilanjutkan dan diperluas ke kota lain, termasuk kawasan Jawa Barat, tanpa mengurangi standar medis yang aman bagi anak disabilitas.
Sumber: Sindo News.
