NEWS
Indeks
Nasional

Tekanan Ekonomi Washington ke Teheran Dinilai Pengganti Target yang Gagal lewat Jalur Senjata

Pemberlakuan sanksi AS Iran yang baru kembali menyita perhatian publik internasional, termasuk pembaca di Bandung yang sensitif terhadap gejolak harga energi global. Setelah sekitar enam bulan konflik tanpa hasil militer maupun diplomatik yang memadai, langkah ekonomi Washington dibaca sebagai cara lain untuk menekan Teheran.

Penilaian itu disampaikan Sina Toossi, peneliti senior di Center for International Policy. Menurutnya, paket sanksi terbaru tampak diarahkan meraih sasaran yang sejauh ini belum berhasil digapai melalui kekuatan bersenjata.

Pendekatan zero-sum dan respons Teheran

Toossi menjelaskan bahwa Amerika Serikat menempuh logika zero-sum: keuntungan satu pihak dipandang sebagai kerugian pihak lain. Iran, lanjutnya, membalas dengan pola pikir serupa sehingga ruang kompromi menyempit.

Ia menambahkan, Teheran berupaya mencegah negara-negara tetangga ikut dalam kampanye tekanan AS. Keterlibatan semacam itu, dalam kacamata Iran, berisiko ditafsirkan sebagai tindakan perang dan memicu eskalasi lebih luas di kawasan.

Perubahan doktrin penahanan diri

Dalam penilaian yang sama, Iran kian meyakini bahwa sikap menahan diri di masa lalu justru membuka peluang eskalasi dari pihak lawan. Karena itu, strategi pencegahan kini dikaitkan dengan kemampuan serta kesiapan memberi konsekuensi timbal balik yang jauh lebih berat.

Pergeseran ini menandai harden-ing posisi politik dan keamanan Teheran. Isyarat tersebut juga menjadi sinyal bagi negara-negara di sekitar Teluk agar menimbang risiko apabila memilih berpihak secara terbuka pada tekanan eksternal.

Batas isolasi ekonomi dan peran mitra dagang

Toossi mengakui Amerika Serikat masih mampu menambah beban ekonomi yang sangat besar. Namun isolasi total terhadap Iran memerlukan dukungan China beserta mitra dagang utama lain yang selama ini menolak legitimasi sanksi sekunder AS.

Di sisi lain, Iran berusaha membuat dirinya lebih sulit diisolasi. Langkah yang disebut meliputi perluasan jalur perdagangan darat, penggunaan mata uang nasional dalam transaksi, penguatan hubungan ekonomi dengan China dan Rusia, serta pengurangan kerentanan pada saluran keuangan tertentu, termasuk ketergantungan pada jalur lewat UEA.

  • Perluasan rute dagang darat antarnegara mitra
  • Transaksi dengan mata uang nasional
  • Pendalaman kerja sama ekonomi dengan China dan Rusia
  • Pengurangan paparan pada saluran keuangan yang rentan sanksi

Pertemuan Oman–Iran dan isu Selat Hormuz

Sementara dinamika sanksi berlangsung, Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu di Teheran. Pembicaraan mereka dilanjutkan terkait Selat Hormuz, jalur strategis bagi pasokan energi dunia.

Bagi pembaca di Jawa Barat dan Kota Bandung, stabilitas Hormuz relevan karena gejolak di jalur tersebut berpotensi memengaruhi sentimen harga minyak dan biaya transportasi global. Tanpa perlu membesar-besarkan dampak lokal, pemantauan isu ini tetap penting bagi perencanaan dunia usaha dan konsumen energi.

Secara keseluruhan, sanksi anyar AS menempatkan arena ekonomi sebagai kelanjutan kontestasi yang belum selesai di medan militer dan diplomasi. Keberhasilan tekanan tersebut akan sangat bergantung pada koordinasi internasional, daya tahan ekonomi Iran, serta kehati-hatian negara tetangga agar tidak terseret ke jurang eskalasi baru.

Sumber: Sindo News.

Tag: sanksi AS, Iran, Teheran, Selat Hormuz, politik luar negeri, ekonomi global, China Rusia, energi dunia