NEWS
Indeks
Nasional

Tiga Pesawat Beruntun Alami Gangguan di Hasanuddin Makassar

Rangkaian gangguan operasional pesawat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, menarik perhatian publik penerbangan nasional, termasuk penumpang dan pengamat di Bandung yang kerap memantau rute ke Sulawesi. Dalam tiga hari beruntun, tiga pesawat—militer maupun sipil—mengalami kendala teknis berbeda di landasan yang sama. Peristiwa itu mencakup tergelincirnya jet tempur, ban pecah saat pendaratan, hingga gagalnya lepas landas pesawat surveillance.

Fakta resmi yang beredar menempatkan rentetan kejadian pada 24 hingga 26 Agustus 2026. Masing-masing kasus melibatkan jenis pesawat dan penyebab yang tidak identik, sehingga tidak digambarkan sebagai satu rantai kecelakaan tunggal. Bagi pembaca di Jawa Barat, informasi ini relevan sebagai catatan keselamatan penerbangan nasional tanpa mengubah data lapangan di Makassar.

Kronologi singkat tiga hari di landasan Hasanuddin

Urutan waktu menjadi kerangka paling jelas. Pada 24 Agustus 2026, Sukhoi Su-30 MK2 mengalami tergelincir di Runway 13 saat menjalani pengujian setelah pemeliharaan tingkat berat. Sehari berikutnya, pesawat CASA U-6215 milik TNI Angkatan Laut menghadapi masalah ban utama kanan yang kempis atau pecah usai mendarat di Runway 03. Kemudian pada 26 Agustus 2026, Piper PA-31 Navajo milik PT Vast Intra Avia gagal melakukan take off di Runway 03-21 karena kendala teknis.

Ketiga peristiwa berlangsung di kompleks Bandara Sultan Hasanuddin, namun pada titik landasan dan fase operasi yang berbeda. Tidak ada laporan dalam ringkasan sumber yang menyatukan ketiganya sebagai akibat cuaca ekstrem tunggal atau kerusakan infrastruktur yang sama. Pemisahan jenis gangguan justru menegaskan perlunya penanganan kasus per kasus oleh otoritas terkait.

Sukhoi Su-30 MK2 dan uji setelah perawatan berat

Insiden pertama menempatkan jet tempur Sukhoi Su-30 MK2 pada posisi pengujian pasca-pemeliharaan tingkat berat. Saat berada di Runway 13, sistem pengereman tidak berfungsi secara maksimal sehingga pesawat tergelincir. Konteks uji setelah perawatan membedakan kejadian ini dari operasi penerbangan reguler penumpang.

Detail teknis lebih lanjut mengenai komponen rem atau prosedur uji tidak dijabarkan secara rinci pada ringkasan berita awal. Yang dipastikan adalah lokasi landasan, tanggal 24 Agustus 2026, serta status pesawat yang sedang dalam tahap pengujian. Informasi tersebut menjadi acuan publik agar tidak mencampuradukkan peristiwa militer ini dengan gangguan maskapai sipil harian.

CASA TNI AL dan Piper PA-31: dua jenis gangguan berbeda

Pada 25 Agustus 2026, CASA U-6215 milik TNI AL mendarat di Runway 03 lalu mengalami ban utama kanan yang kempis atau pecah. Gangguan pada roda setelah touchdown menuntut respons di apron atau area pergerakan darat, berbeda dari skenario tergelincir saat uji rem. Identitas satuan pemilik pesawat menegaskan karakter operasi militer laut pada kasus kedua.

Keesokan harinya, 26 Agustus 2026, pesawat surveillance Piper PA-31 Navajo milik PT Vast Intra Avia tidak berhasil lepas landas dari Runway 03-21 karena masalah teknis. Fase take off yang gagal menempatkan risiko pada awal penerbangan, bukan pada pendaratan atau pengujian pasca-perawatan. Perbedaan fase operasi di antara ketiga pesawat memperkuat gambaran bahwa “hat trick” kendala itu bersifat beruntun secara waktu, bukan identik secara penyebab.

  • 24 Agustus 2026: Sukhoi Su-30 MK2 tergelincir di Runway 13, rem tidak maksimal usai perawatan berat
  • 25 Agustus 2026: CASA U-6215 TNI AL, ban utama kanan kempis/pecah setelah mendarat Runway 03
  • 26 Agustus 2026: Piper PA-31 Navajo PT Vast Intra Avia gagal take off di Runway 03-21 karena teknis

Catatan untuk penumpang dan pemantau penerbangan dari Bandung

Bandara Hasanuddin merupakan simpul penting konektivitas timur Indonesia. Penumpang yang berangkat dari Bandung atau bandara Jawa Barat menuju Makassar umumnya tidak terkait langsung dengan operasi jet tempur atau pesawat surveillance, namun tetap membutuhkan kepastian bahwa arus penerbangan sipil dikelola transparan setelah gangguan nonrutin. Pemberitaan sebelumnya menyebut arus penerbangan di bandara tersebut dapat kembali normal setelah penanganan insiden, meski detail operasional harian harus dicek lewat kanal resmi maskapai dan pengelola bandara.

Dari sisi literasi keselamatan, rangkaian tiga hari ini mengingatkan bahwa gangguan bisa muncul pada pesawat militer maupun sipil dengan spektrum masalah mulai dari sistem rem, ban, hingga kendala teknis lepas landas. Publik di Bandung cukup membekali diri dengan fakta tanggal, jenis pesawat, dan landasan yang disebut, tanpa menambahkan spekulasi di luar data yang sudah dipublikasikan.

Secara keseluruhan, tiga pesawat mengalami kendala beruntun di Bandara Sultan Hasanuddin dalam tiga hari dengan karakteristik berbeda. Sukhoi Su-30 MK2 terkait uji pasca-perawatan dan rem, CASA TNI AL terkait ban setelah mendarat, serta Piper PA-31 terkait kegagalan take off. Penyajian ulang ini disusun untuk pembaca portal daerah agar memperoleh ringkasan runtut, tetap setia pada fakta siapa-apa-di mana-kapan, dan menghindari pengulangan framing infografis sumber asal.

Sumber: Liputan6.

Tag: Bandara Hasanuddin, pesawat bermasalah, Sukhoi Su-30, CASA TNI AL, Piper PA-31, Makassar, keselamatan penerbangan, penerbangan nasional