Peringatan keras soal tingkat kesuburan global kembali mengemuka setelah dua peneliti ekonomi Amerika Serikat mempublikasikan temuan yang menempatkan dunia pada jalur kontraksi penduduk jangka panjang. Mereka menilai rata-rata kelahiran per perempuan kini berada di ambang—atau bahkan sedikit di bawah—angka yang diperlukan agar tiap generasi bisa menggantikan dirinya sendiri.
Temuan itu dituangkan dalam kajian berjudul Terra Incognita: The Economics of a Shrinking World, yang dirilis awal Agustus 2026. Penulisnya adalah profesor ekonomi Jesus Fernandez-Villaverde dari University of Pennsylvania bersama peneliti Patrick Norrick dari Northwestern University. Keduanya menekankan bahwa situasi semacam ini belum pernah tercatat sepanjang sejarah spesies manusia, termasuk pada masa perang maupun pandemi.
Angka ambang penggantian dan estimasi terbaru
Secara global, ambang penggantian diperkirakan berada di sekitar 2,2 anak per perempuan. Studi tersebut mencatat tingkat kesuburan saat ini tidak lebih tinggi dari 2,19. Selisih tipis itu sudah cukup untuk menandai pergeseran historis: jumlah kelahiran berpotensi lebih sedikit daripada yang dibutuhkan untuk menjaga populasi stabil dalam jangka panjang.
Para penulis menegaskan bahwa pada 2026 umat manusia kemungkinan besar sudah berada di bawah tingkat penggantian. Artinya, tanpa migrasi neto yang sangat besar atau lonjakan kelahiran yang tak terduga, populasi dunia akan memasuki fase penurunan dalam kurun waktu sekitar satu generasi.
Dampak ekonomi dan sistem kesejahteraan
Konsekuensi yang digarisbawahi bukan hanya soal jumlah jiwa. Tingkat kelahiran yang rendah secara berkepanjangan diperkirakan menyusutkan angkatan kerja, mempercepat penuaan penduduk, serta menekan kapasitas produksi. Sistem pensiun, jaminan sosial, dan layanan kesehatan publik akan menanggung beban lebih berat karena rasio penduduk usia produktif terhadap lansia menyusut.
Di banyak negara maju, pola serupa sudah terlihat lebih dulu. Namun sinyal global ini menandakan bahwa fenomena tersebut tidak lagi terbatas pada kawasan tertentu. Pasar tenaga kerja, investasi jangka panjang, dan perencanaan fiskal pemerintah di berbagai belahan dunia akan menghadapi tekanan yang lebih sistemik.
Relevansi bagi Indonesia dan kawasan kota seperti Bandung
Bagi pembaca di Indonesia, termasuk kawasan urban Jawa Barat seperti Bandung, isu ini relevan sebagai konteks perencanaan demografi dan ekonomi daerah. Tren fertilitas nasional memang tidak otomatis sama dengan rata-rata dunia, tetapi kota-kota besar kerap mengalami pola penundaan pernikahan, biaya hidup tinggi, serta partisipasi perempuan di pasar kerja yang memengaruhi keputusan memiliki anak.
Pemerintah daerah dan pusat biasanya meninjau data kelahiran, migrasi, serta proyeksi usia produktif untuk menyusun anggaran pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. Memahami peringatan global membantu merancang kebijakan yang lebih tangguh terhadap skenario penduduk menua dan tenaga kerja yang lebih ketat di masa depan, tanpa harus menunggu krisis sudah terlanjur terasa.
Apa yang perlu dicermati ke depan
Para peneliti menekankan bahwa ambang 2,2 bukan sekadar angka statistik. Ia menjadi penanda arah: apakah masyarakat dunia masih mampu mempertahankan regenerasi penduduk secara alami. Jika estimasi mereka bertahan, satu generasi ke depan akan menyaksikan peta ekonomi yang berbeda—lebih sedikit pekerja muda, lebih banyak kebutuhan perawatan lansia, dan persaingan bakat yang semakin tajam.
- Pantau pembaruan data fertilitas dari lembaga statistik internasional dan nasional.
- Kaji ulang proyeksi angkatan kerja serta skema jaminan sosial jangka menengah.
- Pertimbangkan kebijakan keluarga, perumahan, dan dukungan pengasuhan yang realistis bagi pasangan usia produktif.
Diskusi publik di tingkat kota maupun nasional sebaiknya menghindari panik, tetapi juga tidak mengabaikan sinyal ilmiah. Transisi demografi berlangsung pelan, namun dampaknya bersifat kumulatif. Kesiapan data, transparansi kebijakan, dan dialog lintas sektor menjadi modal penting agar adaptasi ekonomi berjalan lebih mulus.
Dengan kata lain, peringatan dari Pennsylvania dan Northwestern University ini bukan ramalan kiamat penduduk, melainkan undangan untuk merancang ulang cara masyarakat memandang kelahiran, kerja, dan kesejahteraan lintas generasi—termasuk di pusat-pusat urban Indonesia yang terus tumbuh.
Sumber: Sindo News.
